Jumat, 08 Mei 2015

OPC, APC, STRUKTUR PRODUK, BOM

OPC, APC,STRUKTUR PRODUK, DAN BOM
PEMBUATAN LEMARI HIJAB

Aan Andri Yana, Annisaa Utami Pangestu, Eka Aprilia, Fransiscus Serrano, Hanna Amalia, Puspita.

Mahasiswa Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri,
Universitas Gunadarma
(Jl. Margonda Raya No. 100 Pondok Cina, Depok 16424)

ABSTRAK
Kata Kunci: OPC (Operation Process Chart), APC (Assembly Process Chart), Struktur Produk, BOM, Lemari hijab.
Perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur tentunya memiliki sistem produksi agar usahanya berjalan dengan lancar. Sistem produksi bertujuan untuk mentransformasikan input menjadi output produksi guna perencanaan dan pengendalian produksi yang lebih efisien, efektif, dan optimal. Perusahaan memerlukan informasi mengenai waktu siklus, waktu normal, dan waktu baku dari operator untuk menyelesaikan pekerjaannya. Namun terkadang perusahaan tidak dapat menggambarkan dengan jelas tahapan-tahapan dalam mentransformasikan input produksi sampai menjadi output produksi, sehingga informasi yang diberikan sulit untuk dipahami dan waktu penyelesaian yang dibutuhkan operator sulit untuk ditentukan. Berdasarkan hal tersebut perusahaan membutuhkan alat yang dapat membantu dalam perencanaan proses sekaligus penyampaian informasi, yaitu dengan menggunakan OPC (Operation Process Chart), APC (Assembly Process Chart), Struktur produk dan BOM (Bill of Material). Harapan dari perusahaan setelah dilakukan pengaplikasian dari keempat alat tersbut adalah agar proses produksi lemari hijab dapat berjalan dengan baik sesuai dengan sistem produksi yang diterapkan.
Waktu siklus, waktu normal, dan waktu baku dari proses pembuatan lemari hijab adalah 19,57 menit,19,57 menit dan 22,505 menit. Proses pembuatan produk lemari hijab adalah pertama mengukur bahan mentah yaitu triplek dengan tebal 1 cm, triplek diukur sesuai dengan ukuran tiap komponen, kemudian dipotong, dihaluskan dan lubangi setelah itu dirakit, waktu penyelesaiannya sebesar 35,78 menit. Langkah proses perakitan pertama adalah merakit komponen papan samping kanan dengan papan bawah, kemudian dirakit dengan papan samping kecil, papan atas, papan samping kiri, dan papan sekat waktu penyelesaianny sebesar 15,14 menit. Komponen tambahan lemari hijab adalah gantungan lemari, dan sekrup 1 cm. Mesin yang digunakan mesin potong, mesin serut dan mesin bor. Terdapat 5 level struktur produk pembuatan lemari hijab baik explotion maupun implotionyang dimulai dari level 0 hingga level 5.

PENDAHULUAN
Perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur khususnya yang memproduksi sebuah produk tentunya memiliki sistem produksi agar usahanya berjalan dengan lancar. Sistem produksi itu sendiri merupakan kumpulan sub sistem yang saling berinteraksi satu sama lain dengan tujuan yang sama yaitu mentransformasikan input produksi menjadi output produksi guna perencanaan dan pengendalian produksi yang lebih efisien, efektif, dan optimal. Perusahaan memerlukan informasi mengenai waktu siklus, waktu normal, dan waktu baku dari operator untuk menyelesaikan pekerjaannya. Namun terkadang perusahaan tidak dapat menggambarkan dengan jelas tahapan-tahapan dalam mentransformasikan input produksi sampai menjadi output produksi, sehingga informasi yang diberikan sulit untuk dipahami dan waktu penyelesaian yang dibutuhkan operator sulit untuk ditentukan. Berdasarkan hal tersebut perusahaan membutuhkan alat yang dapat membantu dalam perencanaan proses sekaligus penyampaian informasi, yaitu dengan menggunakan OPC (Operation Process Chart), APC (Assembly Process Chart), Struktur produk dan BOM (Bill of Material).
OPC (Operation Process Chart) atau yang sering disebut dengan peta proses operasi merupakan peta kerja yang menggambarkan urutan kerja dengan membagi pekerjaan tersebut dan elemen-elemen operasi secara detail. Alat yang kedua adalah APC (Assembly Process Chart) atau sering disebut dengan peta proses perakitan merupakan suatu peta kerja yang menggambarkan langkah-langkah proses perakitan yang akan dialami oleh komponenberikut dengan pemeriksaannya dari awal proses hingga produk jadi selesai. Alat yang ketiga adalah struktur produk yang merupakan cara komponen-komponen itu bergabung ke dalam suatu produk selama proses manufakturing. Alat yang terakhir adalah BOM (Bill of Material) adalah sebuah daftar jumlah komponen, campuran bahan, dan bahan baku yang diperlukan untuk membuat suatu produk. Keempat alat tersebut digunakan karena dapat melihat urutan-urutan proses pembuatan suatu produk dari bahan mentah menjadi produk setengah jadi atau produk jadi dan dapat melihat urutan-urutan proses perakitan suatu produk serta dapat digunakan untuk memperlihatkan informasi pembentukan suatu produk dari komponen-komponen pembentuknya.
Berdasarkan kondisi diatas maka keempat alat tersebut diterapkan dalam proses pembuatan lemari hijab untuk melihat bagaimana proses pembuatan lemari hijab mulai dari kebutuhan bahan mentah atau komponen dan fasilitas yang diperlukan. Bagaimana proses pengerjaannya dengan menggunakan peta proses operasi (OPC). Bagaimana proses perakitan komponen untuk membuat lemari hijab menggunakan peta proses perakitan (APC), serta bagaimana struktur produkdanbill of material(BOM) dari produk lemari hijab.
Tujuan pada penulisan laporan akhir modul OPC, APC, Struktur Produk, dan BOM ini adalah mengetahui waktu siklus, waktu normal, dan waktu baku dari proses pembuatan lemari hijab, mengetahui proses pembuatan produk lemari hijab dari bahan mentah menjadi komponen, sub assembly, hingga produk jadi dan waktu penyelesaianya. Mengetahuilangkah-langkah proses perakitan yang dialami komponen pembentuk lemari hijab dari awal hingga produk jadi dan waktu penyelesaianya, mengetahui komponen, komponen tambahandan mesin yang dibutuhkan untuk dirakit menjadi sebuah produk lemari dan mengetahui level pada struktur produk dan BOM. Harapan dari perusahaan setelah dilakukan pengaplikasian dari keempat alat tersbut adalah agar proses produksi lemari hijab dapat berjalan dengan baik sesuai dengan sistem produksi yang diterapkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Produksi dan teknologi sangat dibutuhkan karena produksi adalah bidang yang terus berkembang selaras dengan perkembangan teknologi. Kebutuhan produksi untuk beroperasi dengan biaya yang lebih rendah, meningkatkan kualitas dan produktivitas, dan menciptakan produk baru telah menjadi kekuatan yang mendorong teknologi untuk melakukan berbagai terobosan dan penemuan baru. Fungsi produksi adalah fungsi yang dilakukan untuk melakukan aktivitas pengubahan dan pengolahan sumber daya produksi masukan menjadi keluaran, barang atau jasa, sesuai yang direncanakan sebelumnya. Proses produksi merupakan cara, metode, dan teknik untuk menciptakan atau menambah suatu kegunaan suatu produk untuk mengoptimalkan sumberdaya produksi yang ada[1].
Peta proses operasi atau operation process chart (OPC) adalah peta kerja yang mencoba menggambarkan urutan kerja dengan jalan membagi pekerjaan tersebut dan elemen-elemen operasi secara detail. Peta operasi ini umumnya digunakan untuk menganalisis operasi-operasi kerja yang memakan waktu beberapa menit persiklus. Beberapa prinsip untuk membuat peta proses operasi, prinsip ini digunakan agar peta tersebut mudah dipahami dan dimengerti oleh pembaca. Prinsip-prinsip untuk membuat peta proses operasi adalah baris paling atas dinyatakan kepalanya peta proses operasi yang diikuti oleh  identifikasi lain seperti nama objek, nama pembuat peta, tanggal dipetakan, nomor peta, dan nomor gambar. Material yang akan diproses diletakan diatas garis horizontal, yang menunjukan bahwa material tersebut masuk kedalam proses. Lambang-lambang ditempatkan dalam arah vertikal, yang menunjukan terjadinya perubahan proses. Penomoran terhadap suatu kegiatan operasi diberikan secara berurutan sesuai dengan urutan operasi. Penomoran terhadap suatu kegiatan pemeriksaan diberikan secara tersendiri dan perinsipnya sama dengan penomoran untuk kegiatan operasi. Peta proses operasi dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu proses produksi kontinyu dan proses produksi terputus. Assembly Process Chart(APC) atau biasa disebut dengan peta proses perakitan merupakan suatu peta kerja yang menggambarkan langkah-langkah proses perakitan yang akan dialami oleh komponenberikut dengan pemeriksaannya dari awal proses hingga produk jadi selesai. Peta proses perakitan memiliki beberapa informasi yang perlu diketahui. Peta proses operasi berisi informasi-informasi yang diperlukan untuk analisa lebih lanjut, seperti waktu yang dihabiskan, komponen yang digunakan, dan alat-alat yang dipakai. APC memiliki tujuan terutama untuk menunjukkan keterkaitan antara komponen, yang dapat juga digambarkan oleh sebuah gambar terurai yang digunakan untuk mengajar pekerja yang tidak ahli untuk mengetahui urutan suatu rakitan yang rumit. Informasi-informasi yang bisa dicatat melalui peta proses operasi, kita bisa memperoleh banyak kegunaan dan manfaat dari APC, antara lain menentukan kebutuhan operator, mengetahui kebutuhan tiap komponen, alat untuk menentukan tata letak fasilitas, alat untuk melakukan perbaikan cara kerja dan alat untuk latihan kerja[2].
Struktur produk adalah sebagai cara komponen-komponen itu bergabung ke dalam suatu produk selama proses manufakturing. Struktur produk akan menunjukkan bahan baku yang dikonversi ke dalam komponen-komponen fabrikasi kemudian komponen-komponen itu bergabung secara bersama untuk membuat sub assemblies, kemudian sub assemblies bergabung bersama membuat assemblies dan seterusnya sampai produk akhir. Kebanyakan produk memiliki struktur standar dimana sub assembly lebih banyak daripada produk akhir dan komponen daripada sub assembly (berbentuk segitiga dengan puncak adalah produk akhir, bagian tengah adalah assembly dan bagian bawah adalah komponen dan bahan baku). Terdapat dua teknik yang digunakan pada struktur produk.  Explotionyaitu suatu teknik penguraian komponen struktur produk yang urutan dimulai dari induk sampai komponen pada level paling bawah. Implotion, yaitu suatu teknik penguraian komponen struktur produk yang urutan dimulai dari komponen sampai induk atau level atas. Jenis-jenis struktur produk berdasarkan keperluan pernecanaan, yang dibagi menjadi dua jenis.Planning bills dengan item yang dijadwalkan merupakan komponen atau sub assemblies untuk pembuatan produk akhir, dimana item-item yang dijadwalkan itu secara fisik lebih kecil dari pada produk akhir. Kategori jenis planning bills yaitu Modullar bills, yaitu mengelompokkan sub assembly dan parts berdasarkan pada apakah mereka adalah unit terhadap specific or common productoption terhadap semua konfigurasi produk. Kelompok ini disebut module, yang dijadwalkan dalam MPS. Inverted bill of material, yaitu suatu komponen tunggal atau bahan baku, seperti minyak, pulp, atau cokelat, yang dapat diubah ke dalam banyak produk unik.Planning bills dengan item yang dijadwalkan memiliki produk akhir sebagai komponennya (super bills), dimana item-item yang dijadwalkan secara fisik lebih besar dari pada produk akhir. Kategori planning bills ini adalah Super bills of material, merupakan suatu planning bills dimana item yang dijadwalkan lebih besar dari pada produk akhir disebut sebagai super bills. Secara spesifik suatu super bill adalah single level BOM, dimana parent adalah pseudo (not real) assembly, dan children adalah real end products. Super family bills of materials, untuk meningkatkan akurasi dari peramalan permintaan, banyak perusahaan membentuk kelompok dari produk dengan pola permintaan serupa. Ramalan agregat (family) biasanya lebih akurat dari pada ramalan untuk satu produk. Penggunaan ramalan agregat harus mengembangkan super family bill of material yang terdiri dari family (pseudo) assembly sebagai parent dan berbagai produk akhir individual dalam family itu sebagai children. Super modular bill of material, merupakan kombinasi antara super bill dengan modular bill. Super modular bill of material ini, parent adalah suatu unbuildable group of modules yang digunakan hanya untuk tujuan perencanaan, sedangkan children adalah modules yang dapat muncul dalam produk akhir.Bill of material (BOM) adalah sebuah daftar jumlah komponen, campuran bahan, dan bahan baku yang diperlukan untuk membuat suatu produk. Bill of material tidak hanya menspesifikasikan produksi, tapi juga berguna untuk pembebanan biaya, dan dapat dipakai sebagai daftar bahan yang harus dikeluarkan untuk karyawan produksi atau perakitan. Bill of material memiliki jenis-jenis berdasarkan strukturnya. Berikut ini adalah berbagai macam jenis BOM berdasarkan strukturnya, yaitu: struktur standar (tree pyramid structure),sub assembly lebih banyak dibandingkan dengan produk akhir dan komponen lebih banyak daripada sub assembly. Jumlah produk akhir yang dibuat hanya sedikit dari komponen-komponen penyusunnya. Produk akhir ini disimpan dalam stok untuk pengiriman. Struktur modular (bourglas structure),sub assembly atau modular lebih sedikit dibanding produk akhir dan komponen lebih banyak daripada sub assembly. Jenis stuktur modular banyak produk akhir yang dibuat dari sub assembly yang sama kemudian disimpan untuk assembly untuk memenuhi pesanan pelanggan. Struktur inverted sub assembly lebih sedikit dibanding dengan produk akhir dan jumlah komponen dan bahan baku lebih sedikit dibanding dengan sub assembly, dalam struktur inverted banyak produk akhir dibuat dari sejumlah raw material yang terbatas berdasarkan pada pesanan pelanggan [3].
            Terdapat beberapa perhitungan dalam menentukan waktu siklus, waktu normal dan waktu baku. Penjelasan waktu siklus adalah waktu penyelesaian rata-rata selama pengukran pekerjaan, waktu normal adalah waktu yang diperhitungakan berdasarkan dari faktor penyesuaian bertujuan untuk mendapatkan waktu siklus rata-rata yang wajar. Waktu baku adalah waktu yang sebenarnya digunakan operator untuk memproduksi satu unit dari data jenis produk. Waktu standar untuk setiap part harus dinyatakan termasuk toleransi untuk beristirahat untuk mengatasi kelelahan atau untuk faktor-faktor yang tidak dapat dihindarkan Pengolahan data tersebut dapat dijelaskan seperti berikut. [4]
            Waktu siklus adalah waktu penyelesaian satu satuan produksi mulai dari bahan baku mulai diproses di tempat kerja yang biasa. Waktu siklus dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: WS = Jumlah Waktu : Jumlah Pengamatan[4]
            Untuk perhitungan selanjutnya setelah didapatkan nilai siklus maka harus dihitung berapa waktu normal untuk pekerja dengan melihat tingkat kewajaran kerja yang ditunjukkan. Waktu normal sendiri adalah waktu penyelesaian pekerjaan yang diselesaikan oleh pekerja dalam kondisi wajar dan kemampuan rata-rata. Waktu normal dihitung menggunakan rumus: WN = Waktu Siklus x Penyesuaian. [4]
            Waktu baku merupakan waktu yang dibutuhkan secara wajar oleh seorang pekerja normal untuk menyelesaikan suatu pekrjaan yang dijalankan dalam sistem kerja terbaik. Waktu baku ini adalah waktu normal yang telah ditambah dengan kelonggaran untuk pekerja, dimana kelonggaran difungsikan untuk menghilangkan kelelahan, memenuhi kebutuhan pribadi, serta untuk hambatan-hambatan yang tidak terhindar.WB = Waktu normal (1 + Kelonggaran).[4]

METODOLOGI PENULISAN
Metodologi penulisan merupakan prosedur berisi langkah-langkah yang dilakukan dalam proses pembuatan lemari hijab. Metodologi penulisan pada laporan akhir sistem produksi ini terdiri dari beberapa bagian atau kerangka penulisan.Langkah awal yang dilakukan adalah inisialisasi atau penampungan ide-ide dalam menentukan produk. Selanjutnya adalah kegiatan menentukan produk yang akan dibuat yaitu lemari hijab, penentuan produk dilakukan dengan memilih salah satu ide yang ada sebelumnya. Kemudian langkah selanjutnya adalah menyusun tinjauan pustaka yang digunakan untuk membandingkan pembahasan masalah atau memperkuat hasil yang dapat dalam pembahasan.Landasan teori berisikan teori-teori tentang modul OPC, APC, struktur produk, dan BOM.Setelah menentukan produk kemudian kegiatan selanjutnya adalah pembuatan desain produk, desain produk dibuat dalam bentuk 2 dimensi dengan menggunakan software visio dan 3 dimensi dengan menggnakan software catia. Langkah selanjutnya yang dilakukan setelah membuat desain produk adalah mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Alat dan bahan yang digunakan berupa triplek ukuran 182 x 92x 1cm, sekrup dengan ukuran 1 cm, gantungan lemari, alat tulis, penggaris, stopwatch, mesin potongs, mesin bor, meja fabrikasi, meja assembly dan mesin serut. Langkah selanjutnya yaitu pengumpulan data yang dilakukan pada saat proses perakitan berlangsung. Data-data yang didapat dalam proses pengumpulan data berupa jumlah komponen, ukuran tiap komponen, berat tiap komponen, dan harga tiap komponen. Setelah pengumpulan data yang dibutuhkan telah didapat maka langkah selanjutnya adalah melakukan pengolahan data.Pengolahan data dilakukan sesuai dengan rumus yang ada dan terdapat dalam tinjauan pustaka. Pengolahan data tersebut meliputi pembuatan OPC, APC, struktur produk dan BOM, selain itu dari pengolahan data juga didapat perhitungan scrap, waktu siklus, waktu normal dan waktu baku yang didapatkan dalam pembuatan lemari hijab. Setelah pengolahan data selesai maka langkah selanjutnya adalah menganalisa hasil perhitungan yang dilakukan, hal ini dilakukan guna menjabarkan maksud dari setiap hasil yang didapat agar mudah dipahami.Setelah menganalisa hasil tersbut kemudian dapat diketahui kekurangan dan kelebihan pada produk lemari hijab. Kelebihan lemari hijab yaitu terdapat rak pada samping lemari yang berguna sebagai tempat aksesoris pelengkap hijab, sekat pada lemari yang disusun secara bertingkat memudahkan pengguna untuk mengambil hijab tanpa membuat susunan hijab menjadi berantakan, pemberian gantungan pada rak hijab berguna untuk menggantung lemari di dinding agar penempatan lemari tidak memakan tempat. Kekurangan pada produk lemari hijab adalah triplek yang digunakan kurang kokoh sehingga lemari hijab ini menjadi sedikit goyang, kemudian jumlah sekat untuk menggantung hijab yang sangat terbatas yaitu hanya terdiri dari 3 sekat.Setelah menganalisa produk dan diketahui kekurangan produk langkah berikutnya adalah melakukan perbaikan dari kekurangan yang terdapat pada produk langkah ini dilakukan jika dirasa sangat perlu untuk dilakukannya perbaikan tersebut. Pada proses pembuatan lemari hijab ini belum dilakukan perbaikan terhadap kekurangan tersebut.Langkah terakhir adalah membuat kesimpulan dan saran. Kesimpulan bertujuan untuk menjawab tujuan penulisan sedangkan saran ditujukan untuk perbaikan penulisan selanjutnya agar lebih baik lagi.




HASIL DAN PEMBAHASAN
          Hasil dan pembahasan ini akan membahas tentang pembuatan lemari hijab dan material apa saja yang digunakan dalam membuat lemari hijab. Pembahasan ini terdiri dari deskripsi produk, gambaran Operational Process Chart (OPC) dan Assembly Process Chart (APC), struktur produk, serta Bill Of Material (BOM). Pembuatan produk lemari hijab membutuhkan data-data mengenai komponen-komponen yang digunakan dalam pembuaatan lemari hijab, baik komponen utama ataupun komponen tambahan, data mesin-mesin yang digunakan, dan data waktu perakitan.Berikut merupakan hasil dan pembahasan terhadap pembuatan lemari hijab.
Produk yang dibuat perusahaan diberi nama lemari hijab. Lemari hijab ini dibuat dengan menggunakan bahan triplek dengan tebal 1 cm. Lemari hijab ini ditujukan untuk masyarakat umum yang menggunakan hijab dalam beraktivitas. Lemari hijab ini terdiri dari enam komponen utama yang menyusun lemari hijab tersebut. Komponen-komponen tersebut teridi dari papan samping kanan, papan bawah, papan samping kecil, papan atas, papan samping kiri dan papan sekat. Selain komponen utama terdapat komponen tambahan penyusun produk tersebut berupa sekrup dan gantungan. Lemari hijab ini memiliki ukuran panjang 60 cm, lebar 40 cm dan tinggi 30 cm.
Produk ini memiliki kelebihan dalam fungsinya yaitu lemari ini diletakan didinding sehingga tidak memakan tempat yang banyak. Lemari hijab ini juga membuat hijab tidak mudah kusut dan mudah diletakan sehingga lebih mudah bila mencari hijab yang ingin digunakan. Kelebihan lainnya lemari hijab ini yaitu pada papan samping yang dapat digunakan untuk meletakan kosmetik dan lainnya. Gambar 1 berikut merupakan gambar lemari hijab yang sudah dibuat.
Kekurangan dari produk ini adalah produk ini rapuh jika tidak diletakan didinding. Kekurangan lainnya adalah lemari hijab ini memiliki model yang sedikit kaku, sehingga kurang menarik untuk dilihat. Harga lemari hijab ini adalah sebesar Rp 300.000,-
Description: E:\LAPTOP NANO\Perkuliahan NANO\semester 6\3D TEMPAT KERUDUNG.jpg
Gambar 1 Lemari Hijab 3D dan Produk Asli
            Lemari hijab membutuhkan komponen-komponen penyusun. Komponen yang dibutuhkan diantaranya komponen utama dan komponen tambahan. Berikut ini Tabel 1 merupakan penjelasan komponen utama yang digunakan.




Tabel 1Komponen Utama
No. Komp
Nama Komponen
Unit/
Assy
Tipe Bahan
Gambar Dimensi Pakai (cm)
Gambar Dimensi Terima (cm)
Berat/Unit (kg)
Harga/Unit (Rp)
001
Papan Samping Kanan
1
Triplek




40x30x1




41x31x1
0,7
9868,012422


002

Papan Bawah


1


Triplek


40x9x1


41x10x1


0,2

3183,23

003
Papan Samping Kecil

1

Triplek

40x5x1

41x6x1

0,1

1909,938



004



Papan Atas



1



Triplek





60x40x1





61x41x1



1



19417,702



005


Papan Samping kiri



1



Triplek




40x30x1




41x31x1



0,7


9868,012422

006

Papan Sekat

3

Triplek

48x1x1

49x1x1

0,03

380,435
              Komponen utama yang akan diproses terlebih dahulu dihitung harga per unitnya. Ukuran per lembar triplek 182x92x1 cm dan harga lembar tripleknya adalah Rp 130.000,-. Salah satu contoh perhitungannya adalah sebagai berikut:
Harga kaki meja kanan =
                                      =
                                      = Rp 9868,012422,-
              Tabel 1 tersebut menunjukkan nomor komponen, nama komponen, unit, tipe bahan, gambar dimensi pakai, gambar dimesi terima, berat perunit dan harga perunit. Komponen utama diletakan pada komponen paling atas, yaitu pada nomor komponen satu. Komponen ini merupakan papan samping kanan yang merupakan komponen utama dengan perlakuan yang paling banyak. Unit merupakan banyaknya papan samping yang digunakan. Papan samping yang digunakan adalah sebanyak 1 unit atau 1 buah. Tipe bahan disini adalah bahan dari papan samping kanan tersebut. Bahan yang digunakan adalah kayu dengan jenis triplek. Gambar dimensi pakai adalah gambar dari bentuk komponen yang digunakan. Gambarnya berupa persegi panjang, hal ini menunjukan bahwa komponen papan samping kanan ini berbentuk persegi panjang dengan ukuran yang digunakan dalam gambar adalah 1:20 dan ukuran asli papan yang dipakai adalah 40x30x1 cm. Gambar dimensi terima merupakan gambar komponen papan samping kanan yang diterima dimana masih terdapat allowance, ukuran terimanya adalah sebesar 41x31x1 cm. Berat perunit komponen papan samping kanan adalah sebesar 0,7 kg. Harga perunit merupakan harga satuan komponen tersebut. Harga perunit komponen papan samping kanan adalah Rp 9868,012422,-. Nomor komponen 002 yaitu dengan nama komponen papan bawah. Papan bawah terdiri 1 unit. Tipe bahan yang digunakan adalah kayu. Gambar dimensi pakainya persegi panjang dengan ukuran 40x9x1 cm dan gambar dimensi terimanya persegi panjang dengan ukuran sebesar 41x10x1 cm. Berat perunit sebesar 0,2 kg. Harga perunit komponen papan bawah adalah Rp 3183,23,-. Nomor komponen 003 yaitu dengan nama komponen papan samping kecil. Papan samping kecil terdiri 1 unit. Tipe bahan yang digunakan adalah kayu. Gambar dimensi pakainya persegi panjang dengan ukuran 40x5x1 cm dan gambar dimensi terimanya persegi panjang dengan ukuran sebesar 41x6x1 cm. Berat perunit sebesar 0,1 kg. Harga perunit komponen papan samping kecil adalah Rp 1909,938,-. Nomor komponen 004 yaitu dengan nama komponen papan atas. Papan atas terdiri 1 unit. Tipe bahan yang digunakan adalah kayu. Gambar dimensi pakainya persegi panjang dengan ukuran 60x40x1 cm dan gambar dimensi terimanya persegi panjang dengan ukuran sebesar 61x41x1 cm. Berat perunit sebesar 1 kg. Harga perunit komponen papan atas adalah Rp 19417,702,-. Nomor komponen 005 yaitu dengan nama komponen papan samping kiri. Papan samping kiri terdiri 1 unit. Tipe bahan yang digunakan adalah kayu. Gambar dimensi pakainya persegi panjang dengan ukuran 40x30x1 cm dan gambar dimensi terimanya persegi panjang dengan ukuran sebesar 41x31x1 cm. Berat perunit sebesar 0,7 kg. Harga perunit komponen papan samping kiri adalah Rp 9868,012422,-. Nomor komponen 006 yaitu dengan nama komponen papan sekat. Papan sekat terdiri 3 unit. Tipe bahan yang digunakan adalah kayu. Gambar dimensi pakainya persegi panjang dengan ukuran 48x1x1 cm dan gambar dimensi terimanya persegi panjang dengan ukuran sebesar 49x1x1 cm. Berat perunit sebesar 0,03 kg. Harga perunit komponen papan sekat adalah Rp 380,435,-.
              Total harga komponen penyusun lemari hijab sebesar Rp 44627,33,-. Total harga komponen tersebut lebih kecil dariharga awal lembaran triplek karena komponen utama telah mengalami proses produksi sehingga ukuran lembaran triplek berkurang. Komponen tambahan yang terdapat pada lemari hijab merupakan komponen pelengkap terhadap produk yang dihasilkan. Komponen tambahan terdiri dari dua buah komponen, seperti yang dijelaskan pada Tabel 2.
Tabel 2 Komponen Tambahan
No. Komp
Nama Komponen
Unit/Assy
Tipe Bahan
Ukuran Kemasan (cm)
Unit Tersedia
Berat/Unit (kg)
Harga/Unit (Rp)
007
Sekrup 1cm
22
Besi
5 x 5 x2,5
50
0,001
140
008
Gantungan lemari
2
Besi
6x2,5x0,2
2
0,009
5000
              Komponen tambahan yang digunakan untuk pembuatan lemari hijab terdiri dari dua komponen. Nomor komponen 007 dengan nama komponen sekrup ukuran 1 cm jumlah sekrup yang digunakan sebanyak 22 unit sekrup. Tipe bahan dari sekrup adalah besi dengan ukuran kemasan 5x5x2,5 cm. Unit tersedia sebanyak 50 unit, hal ini menunjukan bahwa sekrup yang tersedia adalah sebesar 50 unit dengan berat 0,001 kg/unit. Harga sekrup perunit adalah sebesar Rp 140,-. Komponen tambahan kedua adalah gantungan lemari. Gantungan lemari yang digunakan adalah sebanyak 2 unit dengan tipe bahan besi. Ukuran dari gantungan adalah 6x2,5x0,2 cm dengan unit yang tersedia adalah 2 unit. Berat dari gantungan adalah 0.009 kg/unit. Harga gantungan perunit adalah sebesar Rp 5000,-. Komponen-komponen penyusun lemari hijab tersebut, nantinya akan diukur, dipotong, dihaluskan, dilubangi dan dirakit. Proses operasi tersebut dilakukan dengan menggunakan beberapa mesin. Mesin-mesin yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Mesin-Mesin
No. Mesin
Nama Mesin
Proses
Tipe Bahan
F1
Meja Fabrikasi
Mengukur
Kayu
F2
Mesin Potong
Memotong
Besi + Plastik
F3
Mesin Serut
Menghaluskan
Besi + Plastik
F4
Mesin Bor
Melubangi
Besi + Plastik
A1
Meja Assembly
Merakit
Besi
            Proses operasi komponen-komponen penyusun lemari hijab pertama kali adalah mengukur. Proses mengukur dilakukan menggunakan meja fabrikasi yang bertipe bahan kayu dengan nomor mesin F1. Proses selanjutnya komponen utama yang sudah diukur kemudian dipotong menggunakan mesin potong dengan tipe bahan besi dan plastik dengan nomor mesin F2. Menghaluskan komponen dilakukan setelah memotong komponen, menghaluskan komponen dilakukan agar komponen lebih rapih dan ukurannya sesuai dengan ukuran seharusnya. Menghaluskan komponen dilakukan menggunakan mesin serut dengan nomor mesin F3. Setelah komponen dihaluskan maka selanjutnya adalah melubangi komponen menggunakan mesin bor. Mesin bor yang digunakan menggunakan mata bor ukuran 0,2 cm dengan nomor mesin F4. Perakitan komponen-komponen yang sudah diproses dilakukan dimeja assembly dengan nomor mesin A1. Pembacaan komponen utama dan tambahan akan lebih mudah jika menggunakan simbol. Pembuatan simbol antara satu komponen dengan komponen yang lain harus berbeda sehingga tidak terjadi kekeliruan simbol. Simbol yang dipakai untuk komponen utama dan tambahan adalah seperti pada Tabel 4.
Tabel 4 Data-Data Komponen Utama dan Tambahan
No. Komp
Nama Komponen
Simbol
Kuantitas
001
Papan Samping Kanan
PSKA
1
002
Papan Bawah
PB
1
003
Papan  Samping Kecil
PSK
1
004
Papan Atas
PA
1
005
Papan Samping Kiri
PSKI
1
006
Papan Sekat
PS
3
007
Sekrup 1cm
S
22
008
Gantungan Lemari
GL
2
            Proses-proses yang dilakukan dengan menggunakan mesin, akan mengurangi ukuran bahan yang digunakan. Berkurangnya ukuran komponen atau bahan tersebut karena adanya komponen atau bahan yang diproses dengan cara dipotong, dihaluskan dan dilubangi. Ampas hasil proses tersebut disebut scrap. Berikut ini dapat dilihat rangkuman dari perhitungan scrap masing-masing komponen pada Tabel 5.
Tabel 5 Perhitungan Scrap
Nama Komponen
Operasi
Sebelum
(Volume Diterima)
Setelah Proses
(Volume Pakai)
%Scrap
Papan Samping Kanan
Mengukur
(41x31x1)
(41x31x1)
0%
Memotong
(41x31x1)
(40,5x30,5x1)
2,81%
Menghaluskan
(40,5x30,5x1)
(40x30x1)
2,85%
Melubangi
(40x30x1)
(40x30x1)
0,02355%
Papan Bawah
Mengukur
(41x10x1)
(41x10x1)
0%
Memotong
(41x10x1)
(40,5x9,5x1)
6,16%
Menghaluskan
(40,5x9,5x1)
(40x9x1)
6,43%
Melubangi
(40x9x1)
(40x9x1)
0%
Papan Samping Kecil
Mengukur
(41x6x1)
(41x6x1)
0%
Memotong
(41x6x1)
(40,5x5,5x1)
9,45%
Menghaluskan
(40,5x5,5x1)
(40x5x1)
10,21%
Melubangi
(40x5x1)
(40x5x1)
0,0471%
Papan Atas
Mengukur
(61x41x1)
(61x41x1)
0%
Memotong
(61x41x1)
(60,5x40,5x1)
2,02%
Menghaluskan
(60,5x40,5x1)
(60x40x1)
2,05%
Melubangi
(60x40x1)
(60x40x1)
0,00523%
Papan Samping Kiri

Mengukur
(41x31x1)
(41x31x1)
0%
Memotong
(41x31x1)
(40,5x30,5x1)
2,81%
Menghaluskan
(40,5x30,5x1)
(40x30x1)
2,85%
Melubangi
(40x30x1)
(40x30x1)
0,0157%
Papan Sekat
Mengukur
(49x1x1)
(49x1x1)
0%
Memotong
(49x1x1)
(48,5x1x1)
1,02%
Menghaluskan
(48,5x1x1)
(48x1x1)
1,03%
Melubangi
(48x1x1)
(48x1x1)
0%
Operasi-operasi yang dilakukan menghasilkan scrap. Banyaknya scrap dapat dihitung menggunakan rumus-rumus yang sudah ada. Banyak scrap dari operasi memotong dapat diketahui dengan menggunakan rumus memotong seperti perhitungan scrap dari papan samping kanan sebagai berikut.    
                                     =
                                     = 2,81%
Menghaluskan dilakukan setelah proses memotong. Menghaluskan dilakukan menggunakan rumus yang sama dengan operasi memotong, seperti perhitungan scrap dari papan samping kanan berikut ini.
                                     = 2,85%
Operasi melubangi merupakan operasi yang dilakukan setelah proses menghaluskan. Perhitungan melubangi sebelumnya harus diketahui terlebih dahulu diameter mata bor untuk selanjutnya mencari volume. Volume yang sudah didapat selanjutnya dikalikan dengan banyaknya lubang yang ingin dibuat pada masing-masing komponen, hasil yang didapat selanjutnya dimasukan kedalam rumus untuk mencari scrap dari proses melubangi seperti contoh perhitungan papan samping kanan berikut ini.
Diameter mata bor (d)             = 0,2 cm
V         =
V         = x (3,14) x(0,2)2x(1)
V         = 0,0314 cm3
Melubangi papan samping kanan terdapat 9 buah lubang. Berikut merupakan contoh perhitungan scrap pada proses melubangi papan samping kanan yang dikalikan dengan banyaknya lubang.
Vs        = 0,0314 x 9 = 0,2826 cm3
                                =
                                = 0,02355%
            Perhitungan yang dilakukan diatas merupakan contoh untuk mencari scrap komponen papan samping kanan. Perhitungan mencari scrap tersebut dimulai dari proses operasi mengukur. Proses operasi mengukur dilakukan pada meja fabrikasi dengan bantuan alat penggaris dan stopwatch. Hasil nilai scrap sebesar 0 karena komponen papan samping kanan tidak mengalami pengurangan ukuran sama sekali sehingga tidak ada scrap yang dihasilkan. Operasi selanjutnya adalah memotong komponen menggunakan mesin potong yaitu mesin jigsaw. Nilai scrap  untuk proses pemotongan adalah sebanyak 2,81%. Nilai ini mengartikan bahwa dari komponen papan samping kanan akan terbuang atau menghasilkan scrap sebesar 2,81%. Penghalusan dengan mesin serut adalah langkah selanjutnya setelah proses pemotongan selesai dilakukan. Penghalusan komponen papan samping kanan tersebut menghasilkan scrap sebesar 2,85%. Langkah selanjutnya adalah melubangi komponen papan samping kanan dengan menggunakan mesin bor tangan. Nilai scrap yang dihasilkan berdasarkan proses operasi tersebut sebesar 0,02355%. Proses yang dilakukan setelah proses melubangi yaitu proses perakitan. Proses tersebut dilakukan oleh satu orang operator dengan dua kali perakitan. Hal ini dilakukan agar operator telah terbiasa dengan proses perakitan yang akan dilakukan, sehingga hasil konversi waktu kedua diharapkan lebih cepat dan menghasilkan proses perakitan produk yang lebih baik. Waktu perakitan yang dilakukan oleh operator tersebut akan berpengaruh terhadap perhitungan waktu yang akan dilakukan. Perhitungan waktu siklus memerlukan data dari waktu yang dibituhkan operator dalam melakukan dua kali perakitan tersebut.
Data selanjutnya yang dibutuhkan adalah data waktu perakitan, dimana waktu perakitan lemari hijab yang dilakukan sebanyak dua kali dicatat kedalam data waktu perakitan.Berikut merupakan tabel mengenai data waktu dalam perakitan lemari hijab pada perakitan pertama dan perakitan kedua yang ditujunjukan pada tabel 6.
Tabel 6 Data Pencatatan Waktu Perakitan (Menit)
No
Nama Komponen
Perakitan (Menit)
Kuantitas
I
II
1
Papan samping kanan + papan bawah
4
1, 583
1
2
Perakitan 1 + Papan samping kecil
2,85
1, 62
1
3
Perakitan 2 + Papan atas
4,9
4,5
1
4
Perakitan 3 + Papan samping kiri
3,47
1,22
1
5
Perakitan 4 + Papan sekat
11
4
1
Total
26,22
12,923

            Berdasarkantabel diatasdapat diketahui bahwa komponen-komponen mengalami 5 kali proses perakitan seperti yang ditunjukan pada kolom nama komponen. Perakitan yang dilakukan sebanyak dua kali dimana perakitan tersebut dialakukan oleh satu orang operator. Berdasarkan data waktu perakitan pertama diperoleh waktu selama 26,22menit. Hal tersebut menunjukkan waktu yang dibutuhkan oleh operator untuk menyelesaikan perakitan pertama.Waktu perakitan kedua diperoleh waktu selama 12,923menit.Hal tersebut menunjukkan waktu yang dibutuhkan oleh operator untuk menyelesaikan perakitan kedua.Waktu perakitan kedua lebih cepat dibandingkan dengan perakitan pertama dengan perbedaan waktu selama 13,297 menit.Hal tersebut dikarenakan operator mulai terbiasa dengan perakitan lemari hijab pada perakitan yang kedua.Kuantitas pada tabel berisikan nilai 1 yang menunjukan jumlah dari komponen.Selain terdapat tabel data waktu perakitan pertama dan kedua, terdapat pula tabel data pencatatan waktu pemeriksaan.Berikut Tabel 7 merupakan tabel data pencatatan waktu pemeriksaan.
Tabel 7 Data Pencatatan Waktu Pemeriksaan
Simbol
Nama Produk
Waktu Proses
LH
Lemari hijab
2 menit
15 detik
Berdasarkan data mengenai komponen-komponen penyusun dalam pembuatan lemari hijab yang masing-masing komponen terdiri dari 1 unit, maka pembuatan lemari hijab akan melalui beberapa tahap. Tahap pertama adalah perhitungan waktu siklus, waktu normal, dan waktu baku dalam membuat sebuah lemari hijab. Berikut ini adalah perhitungan waktu siklus, waktu normal dan waktu baku.
            Perhitungan Waktu Siklus menggunakan rumus yang diperoleh dari hasil bagi antara jumlah perakitan I dan II dengan banyaknya kegiatan.Berikut merupakan perhitungan waktu siklus.
Waktu siklus (Ws)       =
                                    =
                                    =
                                    = 19, 57 menit
            Waktu siklus diperoleh berdasarkan waktu perakitan rata-rata yang dilakukan oleh operator selama merakit satu unit lemari hijab. Proses perakitan dilakukan sebanyak dua kali oleh seorang operator yang sama. Berdasarkan perhitungan dapat dilihat bahwa waktu perakitan satu unit lemari hijab yang dibutuhkan operator adalah selama 19,57 menit.
            Perhitungan Waktu Normal menggunakan rumus yang diperoleh dari hasil perkalian waktu siklus dengan penyesuaian yang bernilai 1.Berikut merupakan perhitungan waktu normal.
Waktu Normal (Wn)          = Ws x P
                                           = 19,57 x 1
                                           = 19, 57 menit
            Waktu normal operator dalam merakit satu unit lemari hijab adalah selama 19,57 menit. Artinya, waktu penyelesaian pekerjaan yang dibutuhkan operator dalam kondisi wajar dan kemampuan rata-rata dengan memperhatikan faktor penyesuaian yang diasumsikan sebesar 1 adalah selama 19,57 menit.
            Perhitungan Waktu Baku diperoleh dari hasil penjumlahan waktu normal dengan kelonggaran yang bernilai 15%. Berikut merupakan perhitungan waktu baku.
Waktu Baku (Wb)       = Wn + (1 x l)
                                    = 19, 57 + ( 1 x 0,15)
                                    = 22, 505 menit
            Waktu baku operator dalam merakit satu unit lemari hijab adalah selama 29,4 menit. Artinya, waktu penyelesaian pekerjaan oleh seorang operator normal secara wajar dengan sistem yang terbaik pada saat itu adalah selama 29,4 menit.
Berdasarkan data-data diatas seperti waktu pengerjaan, persentasi nilai scrap,komponen yang digunakan, dan juga alat yang digunakan maka dapat dibuat Operation Process Chart atau OPC. OPC merupakan peta yang menggambarkan keseluruhan operasi dan pemeriksaan yang dialami komponen dari awal hingga menjadi produk lemari hijab. OPC dari pembuatan tempat lemari hijab dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar  2Operation Process Chart (OPC)
            Peta proses operasi merupakan peta yang menggambarkan urutan operasi dan pemeriksaan dari tiap komponen hingga menjadi produk, pada peta proses operasi dapat dilihat terdapat 6 komponen penyusun lemari hijab. Komponen utamanya adalah papan samping kanan, hal ini dikarenakan papan samping kanan paling banyak mendapatkan perlakuan.Komponen utama diletakan pada bagian paling kanan peta. Peta proses operasi ini termasuk kedalam jenis OPC continue dikarekan urutan penomoran dari proses operasi yang terus berlanjut kebawah sampai dengan proses selesai. Informasi yang diperoleh berdasarkan peta ini yaitu terdapat identitas peta seperti nama objek dimana nama objek ini berisikan objek yang akan dibuat yaitu lemari hijab. Nomor peta berisikan 1 yang menjelaskan bahwa OPC merupakan peta pertama. Terdapat juga informasi mengenai jumlah kegiatan operasi yaitu sebanyak 27 kegiatan dengan waktu 35,763 menit dan satu kali pemeriksaan dengan waktu selama 2,2 menit. Total waktu yang diperlukan untuk merakit keseluruhan komponen mulai dari mengukur tiap komponen, kemudian dipotong, dihaluskan dan lubangi setelah itu dirakit hingga menjadi satu unit lemari hijab beserta pemeriksaannya yaitu selama 37,963 menit.
            Terdapat juga informasi mengenai komponen tambahan, jenis mesin yang digunakan, waktu dari setiap operasi yang dilakukan serta alur dari proses lemari hijab. Komponen tambahan yang digunakan dalam pembuatan lemari hijab adalah sekrup dengan ukuran 1 CM dan gantungan lemari.Sekrup digunakan untuk merakit masng-masing komponen, sedangkan gantungan lemari digunakan untuk meletakan lemari diatas dinding. Terdapat 5 jenis mesin yang digunakan yaitu meja fabrikasi untuk proses mengukur, mesin potong untuk proses memotong, mesin serut untuk proses menghaluskan, mesin bor untuk proses melubangi, dan meja assembly untuk proses merakit. Setalah membuat OPC langkah selanjutnya adalah membuat Assembly Process Chart (APC). Berikut merupakan gambaran dari proses perakitan yang dialami komponen seperti terlihat pada Gambar 3.

           
Gambar  3Assembly Process Chart (APC)

            Peta proses perakitan (APC) merupakan peta yang hanya memperliahatkan gambaran pengerjaan yang dilalui komponen selama proses merakit. Pada peta proses perakitan dapat dilihat bahwa lemari hijab terdiri dari 6 komponen. Infromasi yang diperoleh dari peta proses prakitan ini adalah urutan dari proses perakitan keenam komponen hingga menjadi lemari hijab. Perakitan pertama adalah merakit papan samping kanan dengan papan bawah dimana perakitannya menggunakan sekrup dengan waktu perakitan selama 1,583 menit.Perakitan kedua adalah merakit papan samping kecil dengan hasil perakitan 1 dimana perakitannya menggunakan sekrup dengan waktu perakitan selama 1,62 menit.Perakitan ketiga adalah merakit papan atas dengan hasil perakitan 2 dimana perakitannya menggunakan sekrup dan gantungan dengan waktu perakitan selama 4,5 menit.Perakitan keempat adalah merakit papan samping kiri dengan hasil perakitan 3 dimana perakitannya menggunakan sekrup dengan waktu perakitan selama 1,22 menit. Perakitan terakhir adalah merakit papan sekat dengan hasil perakitan 4 dimana perakitannya menggunakan sekrup dengan waktu perakitan selama 4 menit. Waktu pemeriksaan yang dibutuhkan adalah selama 2,2 menit. Total waktu dari kelima perakitan yang dilakukan adalah selama 12,923 menit. Sedangkan total keseluruhan waktu untuk merakit satu buah lemari hijab dengan pemeriksaannya yaitu selama 15,123 menit.
            Selanjutnya setelah membuat OPC dan APC adalah membuat struktur produk.Struktur produk terbagi menjadi dua jenis yaitu implotion dan explotion.Berikut ini merupakan gambar dari struktur produk implotion seperti terlihat pada Gambar 4.
Gambar 4.Struktur Produk Implotion
Gambar 4. menunjukkan struktur produk dengan jenis implotion dimana penguraian struktur  produk diurutkan dari komponen level paling bawah sampai komponen level atas. Struktur produk ini dimulai dari penguraian komponen utama yaitu papan samping kanan sampai produk jadi atau yang telah dirakit yaitu Lemari Hijab. Pada level 0 terdapat komponen papan samping kanan dengan nomor komponen 001 berjumlah 1 unit, papan bawah dengan nomor komponen 002 berjumlah 1 unit, sekrup 1 cm dengan nomor komponen 007 berjumlah 3 unit. Ketiga komponen tersebut mengalami perakitan yang pertama pada level 1. Selanjutnya, papan samping kecil dan sekrup dengan nomor komponen masing-masing 003 dan 007 dengan jumlah 1 dan 3 unit akan mengalami perakitan yang merupakan hasil gabungan dengan perakitan ke 1, yaitu perakitan ke 2. Pada level 2 terdapat komponen papan atas dengan nomor komponen 004 berjumlah 1 unit, ditambah dengan komponen tambahan yaitu sekrup 1 cm dengan nomor komponen 007 berjumlah 7 unit dan gantungan lemari dengan nomor komponen 008 berjumlah 2 unit. Komponen-komponen tersebut akan mengalami perakitan ke 3 pada level 3. Level 3 terdapat komponen papan samping kiri dengan nomor komponen 005 berjumlah 1 unit dan komponen tambahan sekrup 1 cm bernomor komponen 007 berjumlah 3 yang akan mengalami perakitan di level ke 4 yaitu perakitan ke 4.  Level ke 4 terdapat komponen papan sekat dengan nomor komponen 006 berjumlah 3 unit dan komponen tambahan sekrup 1 cm dengan nomor komponen 007 sebanyak 6 unit. Komponen tersebut merupakan komponen paling akhir mengalami perakitan yaitu perakitan ke 5 pada level ke 5.  Setelah kelima perakitan dilakukan maka selesailah perakitan lemari hijab.
Gambar 5.Struktur Produk Eksplotion
Penjelasan mengenai Gambar 5 sama dengan penjelasan pada Gambar 4 tetapi pada Gambar 5 menunjukkan struktur produk dengan jenis explotion dimana penguraian struktur  produk diurutkan dari induk hingga komponen level paling bawah. Pada level 0 terdapat produk yang selesai mengalami perakitan yaitu lemari hijab. Level 1 menunjukkan perakitan papan sekat dengan nomor komponen 006 berjumlah 3 unit dan sekrup 1 cm dengan nomor komponen 007 berjumah 6 unit yang akan mengalami perakitan ke 4 menjadi lemari hijab. Level 2 merupakan perakitan 2 yang akan digabung dengan komponen papan samping kiri dengan nomor komponen 005 dengan jumlah 1 unit dan sekrup 1 cm dengan nomor komponen 007 dengan jumlah 3 unit. Level 3 menunjukkan papan atas dengan nomor komponen 004 dengan jumlah 1 unit, sekrup 1 cm dengan nomor komponen 007 berjumlah 7 unit dan gantungan berjumlah 2 unit dengan nomor komponen 008 yang akan mengalami penggabungan dengan perakitan 2. Level 4 merupakan penggabungan antara perakitan 1 dengan papan samping kecil dengan nomor komponen 003 dengan jumlah 1 unit dan sekrup 1 cm dengan nomor komponen 007 dengan jumlah 3 unit. Level 5 menunjukkan komponen papan bawah dengan nomor komponen 002 berjumlah 1 unit dan sekrup 1 cm dengan nomor komponen 007 berjumlah 3 unit yang akan mengalami perakitan yaitu perakitan 1.
Tabel mengenai Bill of Material Implotion dan Eksplotion disusun berdasarkan komponen yang digunakan dalam menggambarkan perakitan lemari hijab. Berdasarkan struktur produk Implotion dan Eksplotion yang telah disusun sesuai dengan perakitan pada produk lemari hijab, berikut ini merupakan tabel 8. Bill of Material Implotion.
Tabel 8. Bill of Material (BOM) Implotion
No.
Level
Kode
Deskripsi
Kuantitas
001
0
PSKA
Papan Samping Kanan
1
002
0
PB
Papan Bawah
1
003
1
PSKE
Papan Samping Kecil
1
004
2
PA
Papan Atas
1
005
3
PSKI
Papan Samping Kiri
1
006
4
PS
Papan Sekat
3
-
5
LH
Lemari Hijab
1
007
0,1,2,3,4
SK
Sekrup 1 cm
22
008
2
GL
Gantungan Lemari
2
Tabel BOM implotion mengurutkan keterangan komponen berdasarkan level paling rendah menuju level paling tinggi, bagian bawah tabel diletakkan komponen tambahan. Berdasarkan tabel 8. Bill of Material (BOM) Implotion pada komponen 001 yaitu komponen papan samping kanan berada di level 0 dengan kode PSKA berjumlah 1 unit. Komponen 002 yaitu komponen papan bawah mempunyai kode PB berada di level 0 berjumlah 1 unit. Komponen 003 yaitu papan samping kecil dengan kode PSKE berada di level 1 berjumlah 1 unit. Komponen 004 yaitu papan atas memiliki kode PA berada pada level 2 dengan jumlah 1 unit. Komponen 005 yaitu papan samping kiri dengan kode PSKI berada di level 3 dengan jumlah 1 unit. Komponen 006 yaitu papan sekat memiliki kode PS berada di level 4 berjumlah 3 unit. Lemari hijab disimbolkan dengan LH terletak pada level 5 dengan kuantitas sebanyak 1 unit. Komponen 007 yaitu sekrup 1 cm dengan kode SK berada pada level 0,1,2,3,4 dengan jumlah sekrup sebanyak 22 unit. Komponen 008 yaitu gantungan lemari memiliki kode GL terletak pada level 2 dengan jumlah sebanyak 2 gantungan.
Tabel 9. Bill of Material (BOM) Explotion
No.
Level
Kode
Deskripsi
Kuantitas
-
0
LH
Lemari Hijab
1
006
1
PS
Papan Sekat
3
005
2
PSKI
Papan Samping Kiri
1
004
3
PA
Papan Atas
1
003
4
PSKE
Papan Samping Kecil
1
002
5
PB
Papan Bawah
1
001
5
PSKA
Papan Samping Kanan
1
007
1,2,3,4,5
SK
Sekrup 1 cm
22
008
3
GL
Gantungan Lemari
2
Tabel Bill of Material Eksplotion mengurutkan dari induk sampai dengan komponen level paling rendah, komponen tambahan diletakkan pada bagian tabel paling bawah. Berdasarkan tabel 9. Bill of Material (BOM) Eksplotion didapatkan informasi bahwa lemari hijab memiliki kode LH berada pada level 0 dengan kuantitas 1 unit. Papan sekat berada pada level 1 dengan nomor komponen 006 dengan kuantitas 3 unit. Papan samping kiri memiliki kode PSKI dengan nomor komponen 005 berada pada level 2 dengan kuantitas 1 unit.  Papan atas dengan kode PA bernomor komponen 004 berada pada level 3 berjumlah 1 unit. Papan samping kecil dengan kode PSKE bernomor komponen 003 berada di level 4 berjumlah 1 unit. Papan bawah memiliki nomor komponen 002 dengan kode PB berjumlah 1 unit. Papan samping kanan bernomor komponen 001 dengan kode PSKA berada pada level 5 berjumlah 1 unit. Sekrup 1 cm dengan kode SK dengan nomor komponen 007 berada pada level 1,2,3,4,5 dengan jumlah 22 sekrup. Gantungan lemari dengan kode GL bernomor komponen 008 dengan jumlah 2 unit berada pada level 3.

KESIMPULAN DAN SARAN
   Waktu siklus, waktu normal, dan waktu baku dari proses pembuatan lemari hijab adalah 19,57 menit,19,57 menit dan 22,505 menit. Proses pembuatan produk lemari hijab adalah pertama mengukur bahan mentah yaitu triplek dengan tebal 1 cm, triplek diukur sesuai dengan ukuran tiap komponen, kemudian dipotong, dihaluskan dan lubangi setelah itu dirakit, waktu penyelesaiannya adalah sebesar 37,963 menit. Langkah proses perakitan yang dialami komponen pembentuk lemari hijab adalah pertama merakit komponen papan samping kanan dengan papan bawah, kemudian dirakit dengan papan samping kecil, papan atas, papan samping kiri, dan papan sekat waktu penyelesaianya adalah selama15,123menit. Komponen tambahan lemari hijab adalah gantungan lemari, dan sekrup 1 cm. Mesin yang digunakan pada proses pembuatan lemari hijab adalah mesin potong, mesin serut, meja fabrikasi, meja assembly dan mesin bor. Terdapat 5 level struktur produk pembuatan lemari hijab baik explotion maupun implotionyang dimulai dari level 0 hingga level 5.Perbedaannya hanya pada explotion urutannya dimulai dari produk jadi (induk) sedangkan pada implotion dimulai dari komponen. BOM dibuat sesuai urutan level, bukan komponen BOM juga menunjukan kuantitas dari setiap komponen.
Saran ditujukan untuk perbaikan penulisan selanjutnya.Saran dari penulis adalah agar lebih menggunakan banyak refrensi sebagai tinjauan pustaka.Sebaiknya lebih memperhatikan perhitungan waktu untuk OPC, APC, Struktur Produk, maupun BOM. Penulisan juga harus dilakukan dengan ketelitian yang tinggi untuk megurangi kesalahan .

DAFTAR PUSTAKA
[1] Gasperz, Vincent. 2004. Production Planning And Inventory Control. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
[2] Sutalaksana, Iftikar Z., dkk. 2006. Teknik Tata Cara Kerja. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
 [3]Wignjosoebroto, Sritomo. 1995. Ergonomi Studi Gerak dan Waktu. Surabaya.
[4] Irawati, Diah ika. 2012. Penentuan Waktu Standard an Jumlah Tenaga Kerja Optimal pada Produksi Batik. http://ejournal.undip.ac.id/index.php/jgti/article/view/4536/4136(Di akses pada 31 maret 2015)


Perkembangan Penduduk

Hubungan Antara Perkembangan Penduduk dan Ketersediaan Pangan
Dalam  publikasi  terbaru  yang  diterbitkan  oleh  Food  and  Agriculture
Organization (FAO) PBB mengenai “indeks harga makanan”, indeks yang mengukur
perubahan  harga  sekeranjang  komoditas  pangan  dunia  secara  bulanan,  secara  jelas
menunjukkan  bahwa  harga  komoditas  tersebut  mengalami  kenaikan  terus-menerus
dalam beberapa tahun terakhir di berbagai belahan dunia.
Harga  pangan  dianggap  sebagai  “tsunami  bisu”  yang  akan  mempengaruhi
kehidupan  jutaan  orang,  karena  tampaknya  era  makanan  murah  telah  berakhir  dan
beban  dari  harga-harga  baru  ini  akan  semakin  membuat  dunia  “tenggelam”  seiring
dengan bertambahnya jumlah penduduk dunia.
Meningkatnya harga pangan ini secara nyata bertepatan dengan meningkatnya
kekhawatiran mengenai ketersediaan pangan dunia pada indeks harga berapa pun. Hal
ini  mengkhawatirkan  terutama  bagi  negara-negara  berkembang  di  mana  sejumlah
lapisan  masyarakat  yang  paling  rentan  semakin  dihadapkan  pada  ketidakpastian
apakah mereka mampu memperoleh makanan berikutnya atau tidak.
Beberapa  faktor  berkontribusi  terhadap  kenaikan  harga  pangan  saat  ini.
Kenaikan  jumlah  populasi  dunia  secara  keseluruhan  mengindikasikan  akan
bertambahnya jumlah individu yang harus diberi makan, kenaikan permintaan jumlah
makanan dan kualitas makanan yang lebih baik dari negara-negara seperti India atau
China.
Meningkatnya  kekhawatiran  terhadap  harga  pangan  dan  bagaimana  hal  ini
berdampak pada tingkat kemiskinan dan pembangunan, terbukti oleh kerusuhan dan
revolusi  yang  terjadi  di  Timur  Tengah.  Harga  pangan  merupakan  pendorong
terjadinya  kerusuhan  sosial  yang  menyebar  di  Tunisia  dan  selanjutnya  berkembang
menjadi  isu  di  beberapa  negara  lain.  Tingginya  harga  pangan  menyebabkan  jutaan
orang  jatuh  ke  jurang  kemiskinan,  mengakibatkan  kerusuhan,  ketidakstabilan
ekonomi  dan  meruntuhkan  kekuasaan  pemerintah  di  negara-negara  berkembang
tersebut.
Krisis  pangan  yang  sedang  terjadi  mengingatkan  kita  bahwa  isu  ketahanan
pangan  adalah  isu  permasalahan  sosial  dan  merupakan  permasalahan  ekonomi.
Dalam  kasus  Indonesia,  kebijakan  di  bidang  pertanian  saat  ini  telah  menghasilkan
beberapa  poin  yang  beralasan  mengenai  swasembada  beberapa  pangan  utama,
mengembangkan  diversifikasi  pangan,  meningkatkan  kapasitas  dan  efisiensi  yang
produktif,  dan  kebijakan-kebijakan  ini  juga  telah  mampu  meningkatkan  standar
kehidupan bagi sejumlah penduduk.
Negara seperti Indonesia telah membuat perkembangan yang signifikan dalam
usaha mengurangi kemiskinan sejak krisis finansial Asia di tahun 1998, dan dengan
pengembangan  produktivitas  di  bidang  pertanian,  Indonesia  telah  memperoleh
predikat sebagai salah satu negara yang mengalami perkembangan di sektor pertanian
tercepat.
Pesatnya  pertumbuhan  penduduk  menuntut  pemenuhan  pangan  yang  sangat
besar. US Census Bureau mencatat kebutuhan pangan biji-bijian (beras dan jagung)
di Asia akan meningkat pesat dari 344 juta ton than 1997 menjadi 557 juta ton tahun
2020.  Persoalan  krisis  pangan  dunia  yang  ditandai  kelangkaan  pangan  dan
melonjaknya  harga  pangan  di  pasar  internasional  tahun  2008.  Salah  satunya
disebabkan karena membumbungya permintaan pangan oleh kekuatan ekonomi baru
Cina dan India dengan penduduk masing-masing 1 miliar jiwa.
Hubungan Perkembangan Penduduk dan Ketersediaan Pangan di Indonesia
Tingkat  pertambahan  penduduk dihitung  berdasarkan  persentase  kenaikan
relative atau persentase penurunan relative dari jumlah penduduk neto per tahun yang
bersumber  dari pertambahan  alami dan  migrasi  internasional. Pertambahan  alami
adalah  selisih  antara  jumlah  kelahiran  dengan  jumlah  kematian  di  suatu  Negara
(selisih antara fertilitas dengan mortalitas). Migrasi internasional neto adalah selisih
antara  jumlah  penduduk  yang  beremigrasi  dengan  yang  berimigrasi.  Laju
pertumbuhan  penduduk  Negara  dunnia  ketiga  hamper  sepenuhnya  dihitung
berdasarkan  angka  pertambahan  alami.Total  tingkat  fertilitas atau total  fertility
rate adalah  rata-rata  jumlah  anak  yang  akan  dimiliki  seorang  wanita  dengan
mengasumsikan bahwa tingkat kelahiran saat ini tetap konstan selama masa produktif
wanita tersebut.
Penyebab utama perbedaan laju pertumbuhan penduduk antara Negara-negara
maju  dan  Negara-negara  berkembang  bertumpu  pada  perbedaan  tingkat  kelahiran.
Kesenjangan tingkat kematian antara Negara-negara maju dan berkembang semakin
lama  semakin  kecil.  Penyebab  utamanya  adalah  membaiknya  kondisi  kesehatan  di
seluruh  Negara-negara  dunia  ketiga.  Bagi  kebanyakan  Negara  berkembang,  tingkat
kematian  bayi  telah  mengalami  penurunan  besar  selama  beberapa  decade  terakhir
sehingga harapan hidup menjadi lebih lama
Penduduk Indonesia dari tahun ke tahun selalu berta mbah. Perubahan jumlah
penduduk ini disebut sebaagi pertumbuhan penduduk. Pertumbuhan penduduk adalah
bertambah  atau  berkurangnya  jumlah  penduduk  di  suatu  daerah  atau  negara  dalam
kurun waktu tertentu.Tingkat  pertumbuhan penduduk di negara kita masih termasuk
tinggi.  Pertumbuhan penduduk di suatu daerah/negara disebabkan oleh faktor-faktor
demografi
1. Angka kelahiran, fertilitas, natalitas/birth rate
2. Angka kematian, mortalitas/death rate.
3. Migrasi masuk (imigrasi) yaitu masuknya penduduk ke suatu daerah tempat tujuan
4. Migrasi keluar yaitu perpindahan penduduk keluar dari suatu daerah asal
No  Nama Negara  Jumlah Penduduk
1  RRT  1.306.313.812 jiwa
2  India  1.103.600.000 jiwa
3  Amerika Serikat  298.186.698 jiwa
4  Indonesia  241.973.879 jiwa
Sebuah  fakta  yang  mengejutkan,  hasil  Sensus  Penduduk  Indonesia  2010
ternyata  mencapai  angka  241,9  juta  jiwa.  Tingkat  pertumbuhannya  pun  yang
menyentuh angka 1,49 persen per tahun ternyata meleset dari perkiraan sebelumnya.
Angka  ini  memang  sebuah  statistik,  tetapi  bukan  sekedar  statistik  karena  memiliki
makna penting dan implikasi yang serius. Makna penting dari angka ini adalah 241,9
juta  jiwa  penduduk  Indonesia  jangan  sampai  menjadi  beban  tetapi  harus  menjadi
modal pembangunan. Penduduk Indonesia harus memperoleh pendidikan agar cerdas,
kreatif dan inovatif. Selain itumereka harus pula memperoleh pangan dan asupan gizi
yang  cukup agar sehat,  serta memperoleh pencerahan agama dan budaya agar jujur
dan amanah serta menjunjung nilai-nilai luhur budaya bangsa.
Statistik  ini  pun  memiliki  implikasi  yang  serius  terhadap  sumberdaya  alam
dan  lingkungan,  mulai  dari  soal  penyediaan  pangan,  energi,  alokasi  lahan
permukiman hingga meningkatnya degradasi sumber daya alam dan lingkungan.
Jumlah  penduduk  sebesar  241,9  juta  jiwa  telah  menempatkan  Indonesia
sebagai  negara  keempat  terbanyak  jumlah  penduduknya  setelah  Cina,  India,  dan
Amerika  Serikat.  Indonesia  menghadapi  berbagai  masalah  kependudukan  seperti
ketidakmerataan  persebarannya,  piramida  penduduk  yang  melebar,  dan  Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) yang masih sangat rendah. Persoalan ketidakmerataan
penyebaran penduduk cukup serius. Sebagian besar penduduk terkonsentrasi di pulau
Jawa  (57,49  persen)  sementara  luas  lahannya  hanya  7  persen  dari  luas  Indonesia.
Amat berbeda dengan penduduk luar Jawa khususnya di Indonesia Timur yang relatif
jarang  penduduknya  dan  mendiami  lahan  yang  luas.  Dampak  lanjutannya  adalah
terkait  masalah  ekonomi  yakni  ketimpangan  antar-wilayah,  antar-sektor  dan
kemiskinan.  Ketimpangan  distribusi:  Jawa  dan  luar  Jawa,  kota  dan  perdesaan  serta
ketimpangan  pertumbuhan  antara  kota-kota  metropolitan  dan  kota  menengah  kecil memiliki implikasi yang luas terhadap penyediaan infrastruktur, perumahan, fasilitas
sosial-ekonomi,  dan  khususnya  terkait  dengan  penyediaan  pangan,  kecukupan
pemenuhan kebutuhan energi, dan kerusakan lingkungan hidup.
No  Perkiraan penduduk dunia  Tahun
1  200 juta  1992
2  500 juta  1998
3  650 juta  2004
4  1 milyar  2010
Masalah  jumlah  penduduk  yang  besar  ini  tak  hanya  sekedar  persoalan
ekonomi, sosial dan lingkungan melainkan juga terkait dengan persoalan politik dan
idiologis.  Secara  politik  jumlah  penduduk  yang  tinggi  tanpa  adanya  langkah
penanganan dan antisipasi yang serius khususnya yang terkait dengan pangan, energi,
lingkungan,  pendidikan,  kesehatan,  dan  lapangan  pekerjaan  akan  berimplikasi  pada
ancaman  kedaulatan  bangsa  dan  ketahanan  nasional.  Krisis  politik  yang  dibarengi
krisis ekonomi, ancaman kelaparan akibat kekurangan pangan & pasokan energi serta
lingkungan hidup berpotensi menghancurkan eksistensi sebuah Negara.
Besarnya  jumlah  penduduk  terkait  langsung  dengan  jumlah  penyediaan
pangan, pertumbuhan penduduk yang sangat pesat menuntut pemenuhan pangan yang
sangat  besar  pula.  Dibutuhkan  sedikitnya  130kg  beras  untuk  setiap  orang  per
tahunnya.  Belum  maksimalnya  penyediaan  pangan  yang  ditandai  dengan  besarnya
impor  kebutuhan  pangan  saat  ini,  menjadi  pertanda  yang  serius  bagi  kita  agar
memiliki perhatian pada persoalam penyediaan pangan di negara tercinta ini.
Indonesia  sebagai  negara  agraris  dengan  jumlah  penduduk  terbesar  ke-4  di
dunia dan memliki lahan pertanian yang sangat luas. Departemen Pertanian mencatat
Indonesia  memiliki  kurang  lebih  30  juta  hektar  lahan  pertanian.  Selain  itu,  Badan
Meteorologi,  Klimatologi,  dan  Geofisika  juga  mencatat  curah  hujan  di  Indonesia
sangat tinggi dengan rata-rata 2.000-3.000 milimeter per tahun yang mengakibatkan
ketersediaan air yang sangat melimpah. Dengan demikian Indonesia memiliki potensi
besar untuk menjadi negara  yang terdepan dalam dunia pertanian. Banyak hal yang
akan menunjang kemajuan bidang pertanian antara lain benih yang berkualitas, nutrisi
tanaman dan pestisida. Dengan tersedianya nutrisi tanaman yang mencukupi dengan
kualitas  yang  baik  akan  memberikan  dampak  yang  besar  bagi  para  pelaku  bidang
pertanian,  yang nantinya kita semua akan merasakan manfaatnya. Pada tahun 1960,
kita  semua  mulai  mengenal  Revolusi  Hijau  yang  dipelopori  oleh  Ford  dan Rockefeller Foundation dengan ditemukannya teknologi pupuk Nitrogen, Phosporus,
dan  Kalium  yang  memungkinkan  membantu  perkembangan  pertanian.  Namun  40
tahun setelah Revolusi Hijau, dunia mulai mencari alternatif lain dibidang pupuk atau
nutrisi tanaman yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Angka  241,9  juta  jiwa  penduduk  Indonesia,  bukanlah  sekadar  pertambahan
jumlah  penduduk  yang  cukup  dipandang  sebelah  mata.  Angka  241,9  juta  jiwa  bisa
berubah  jadi  bencana  yang  “mengerikan”  apabila  kita  tak  pernah  memikirkannya
secara  serius.  Bila  kita  tak  mampu  menyediakan  pangan  yang  cukup,  maka  angka
241,9  juta  jiwa  akan  melahirkan  bencana  kelaparan  masal.  Demikian  pula  jika  kita
tak  mampu  menyediakan  energi  yang  cukup  karena  sumber  energi  yang  makin
menipis  dan  kita  tak  mampu  mengembangkan  sumber  energi  terbarukan  maka
ancaman  kekurangan  listrik,  kekurangan  pupuk  akibat  tak  adanya  pasokan  gas,
hingga macetnya seluruh transportasi publik (darat, laut dan udara) akibat mahalnya
bahan bakar akan menghadang di depan mata. Bila Negara tak mampu menyediakan
infrastruktur kesehatan yang memadai untuk 241,9 juta jiwa rakyat Indonesia, maka
ancaman berbagai penyakit medis akan siap menyerang rakyat. Juga, bila pemerintah
tidak  mampu  menyediakan  infrastruktur  pendidikan  yang  memadai  maka  kualitas
sumberdaya  manusia  akan  rendah  dan  tidak  dapat  diharapkan  untuk  mampu
membangun bangsa Indonesia.
Angka  241,9  juta  jiwa  juga  mengharuskan  Negara  menjaga  kelestarian  dan
daya  dukung  lingkungan  dari  tindakan  destruktif  manusia  yang  tak
bertanggungjawab.  Jika  tidak  maka  rakyat  Indonesia  akan  menghadapi  bencana
ekologis yang dahsyat mulai dari banjir, tsunami, tanah longsor, angin topan hingga

ketidakseimbangan iklim akibat hancurnya ekosistem dan biosfir

Sumber:
etidakseimbangan iklim akibat hancurnya ekosistem dan biosfir
http://bataviase.co.id/node/769846
http://www.ciptaindonesiaindah.com/tentang-kamiKetahanan Pangan Terancam
http://gembelzblog.blogspot.com/2011/01/pertumbuhan-penduduk-dunia.html
http://c-tinemu.blogspot.com/2011/06/mengatasi-krisis-pangan.html

http://akuinginhijau.org/2011/08/14/ketahanan-pangan-terancam/

Sumber Daya Alam

Alam  pada  dasarnya  mempunyai  sifat  yang  beraneka  ragam,  namun  serasi  dan
seimbang.  Oleh  karena  itu,  perlindungan  dan  pengawetan  alam  harus  terus  dilakukan  untuk
mempertahankan  keserasian  dan  keseimbangan  itu.  Semua  kekayaan  bumi,  baik  biotik
maupun  abiotik,  yang  dapat  dimanfaatkan  untuk  kesejahteraan  manusia  merupakan
sumberdaya  alam.  Tumbuhan,  hewan,  manusia,  dan  mikroba  merupakan  sumberdaya  alam
hayati, sedangkan faktor abiotik lainnya merupakan sumberdaya alam nonhayati. Pemanfaatan
sumber daya alam harus diikuti oleh pemeliharaan dan pelestarian karena sumber daya alam
bersifat terbatas.
Sumberdaya alam ialah semua kekayaan bumi, baik biotik maupun abiotik yang dapat
dimanfaatkan  untuk  memenuhi  kebutuhan  manusia  dan  kesejahteraan  manusia,  misalnya:
tumbuhan,  hewan,  udara,  air,  tanah,  bahan  tambang,  angin,  cahaya  matahari,  dan  mikroba
(jasad  renik).  Menurut  urutan  kepentingan,  kebutuhan  hidup  manusia,  dibagi  menjadi  dua
sebagai berikut.
1. Kebutuhan Dasar.
Kebutuhan ini bersifat mutlak  diperlukan untuk hidup sehat dan aman. Hal yang termasuk
kebutuhan ini adalah sandang, pangan, papan, dan udara bersih.
2. Kebutuhan sekunder.
Kebutuhan  ini  merupakan  segala  sesuatu  yang  diperlukan  untuk  lebih  menikmati  hidup,
yaitu  rekreasi,  transportasi,  pendidikan,  dan  hiburan.
1.2  Daya dukung lingkungan
Ketersediaan  sumber  daya  alam  untuk  memenuhi  kebutuhan  dasar,  dan  tersedianya
cukup  ruang  untuk  hidup  pada  tingkat  kestabilan  sosial  tertentu  disebut  daya  dukung
lingkungan  Singkatnya,  daya  dukung  lingkungan  ialah  kemampuan  lingkungan  untuk
mendukung perikehidupan semua makhluk hidup. Di bumi ini, penyebaran sumber daya alam
tidak merata letaknya. Ada bagianbagian bumi yang sangat kaya akan mineral, ada pula yang
tidak.  Ada  yang  baik  untuk  pertanian  ada  pula  yang  tidak.  Oleh  karena  itu,  agar
pemanfaatannya dapat berkesinambungan, maka tindakan eksploitasi sumber daya alam harus
disertai  dengan  tindakan  perlindungan.  Pemeliharaan  dan  pengembangan  lingkungan  hidup
harus dilakukan dengan cara yang rasional antara lain sebagai berikut :
1.  Memanfaatkan  sumber  daya  alam  yang  dapat  diperbaharui  dengan  hati-hati  dan  efisien,
misalnya: air, tanah, dan udara.
2.  Menggunakan bahan pengganti, misalnya hasil metalurgi (campuran).
3. Mengembangkan metoda  menambang dan memproses  yang  efisien, serta pendaurulangan
(recycling).
4.  Melaksanakan  etika  lingkungan  berdasarkan  falsafah  hidup  secara  damai  dengan  alam.
1.3  Macam-macam Sumberdaya Alam
Sumberdaya alam dapat dibedakan berdasarkan sifat, potensi, dan jenisnya. 
a. Berdasarkan sifat
Menurut sifatnya, sumberdaya alam dapat dibagi 3, yaitu sebagai berikut:
1.   Sumberdaya  alam  yang  terbarukan  (renewable),  misalnya:  hewan,  tumbuhan,  mikroba,
air, dan tanah. Disebut ter barukan karena dapat melakukan reproduksi dan memiliki daya
regenerasi (pulih kembali).
2.   Sumberdaya  alam  yang  tidak  terbarukan  (nonrenewable),  misalnya:  minyak  tanah,  gas
bumf, batu tiara, dan bahan tambang lainnya.
b.  Berdasarkan potensi
Menurut  potensi  penggunaannya,  sumber  daya  alam  dibagi  beberapa  macam,  antara  lain
sebagai berikut.
1.  Sumber  daya  alam  materi;  merupakan  sumber  daya  alam  yang  
dimanfaatkan  dalam  bentuk  fisiknya.  Misalnya,  batu,  besi,  emas,  
kayu, serat kapas, rosela, dan sebagainya.
2.  Sumber  daya  alam  energi;  merupakan  sumber  daya  alam  yang  
dimanfaatkan  energinya.  Misalnya  batu  bara,  minyak  bumi,  gas  bumi,  air  terjun,  sinar
matahari, energi pasang surut laut, kincir angin, dan lain-lain. Sumber daya alam ruang;  merupakan sumber daya alam yang berupa ruang atau tempat
hidup, misalnya area tanah (daratan) dan angkasa.
c. Berdasarkan jenis
Menurut jenisnya, sumber daya alam dibagi dua sebagai berikut : 
  Sumber daya alam nonhayati (abiotik); disebut juga sumber daya alam fisik, yaitu sumber
daya  alam  yang  berupa  benda-benda  mati.  Misalnya  :  bahan  tambang,  tanah,  air,  dan
kincir angin.
  Sumber  daya  alam  hayati  (biotik);  merupakan  sumber  daya  alam  
yang berupa makhluk hidup. Misalnya: hewan, tumbuhan, mikroba, dan manusia.
Berbicara  tentang  sumber  daya  alam  tumbuhan  kita  tidak  dapat  menyebutkan  jenis
tumbuhannya, melainkan kegunaannya. Misalnya berguna untuk pangan, sandang, pagan, dan
rekreasi. Akan tetapi untuk bunga-bunga tertentu, seperti melati, anggrek bulan, dan  Rafflesia
arnoldi merupakan pengecualian karena ketiga tanaman bunga tersebut sejak tanggal 9 Januari
1993  telah  ditetapkan  dalam  Keppres  No.  4  tahun  1993  sebagai  bunga  nasional  dengan
masing-masing gelar sebagai berikut.
1.  Melati sebagai bunga bangsa.
2. Anggrek bulan sebagai bunga pesona.
3.  Raffiesia arnoldi sebagai bunga langka.
Tumbuhan  memiliki  kemampuan  untuk  menghasilkan  oksigen  dan  tepung  melalui
proses  fotosintesis.  Oleh  karena  itu,  tumbuhan  merupakan  produsen  atau  penyusun  dasar
rantai  makanan.  Eksploitasi  tumbuhan  yang  berlebihan  dapat  mengakibatkan  kerusakan  dan
kepunahan,  dan  hal  ini  akan  berkaitan  dengan  rusaknya  rantai  makanan.

Kerusakan  yang
terjadi  karena  punahnya  salah  satu  faktor  dari  rantai  makanan  akan  berakibat  punahnya
konsumen  tingkat  di  atasnya.  Jika  suatu  spesies  organisme  punah,  maka  spesies  itu  tidak
pernah akan muncul lagi. Dipandang dari segi ilmu pengetahuan, hal itu merupakan suatu ke
rugian besar.
Selain  telah  adanya  sumber  daya  tumbuhan  yang  punah,  beberapa  jenis  tumbuhan
langka  terancam  pula  oleh  kepunahan,  misalnya  Rafflesia  arnoldi  (di  Indonesia)  dan  pohon
raksasa kayu merah (Giant Redwood di Amerika).
Dalam  mengeksploitasi  sumber  daya  tumbuhan,  khususnya  hutan,  perlu
memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.   Tidak melakukan penebangan pohon di hutan dengan semena-mena (tebang habis).
b.  Penebangan  kayu  di  hutan  dilaksanakan  dengan  terencana  dengan  sistem  tebang
pilih(penebangan  selektif). Artinya,  pohon  yang  ditebang  adalah  pohon  yang  sudah  tua
dengan ukuran tertentu yang telah ditentukan.
c.   Cara  penebangannya  pun  harus  dilaksanakan  sedemikian  rupa  sehingga  tidak  merusak
pohon-pohon muda di sekitarnya.
d.    Melakukan  reboisasi  (reforestasi),  yaitu  menghutankan  kembali  hutan  yang  sudah
terlanjur rusak.
e.   Melaksanakan aforestasi, yaitu menghutankan daerah yang bukan hutan untuk mengganti
daerah hutan yang digunakan untuk keperluan lain.
f.    Mencegah  kebakaran  hutan.  Kerusakan  hutan  yang  paling  besar  dan  sangat  merugikan
adalah kebakaran hutan. Diperlukan waktu yang lama untuk mengembalikannya menjadi
hutan kembali.   Hal-hal yang sering menjadi penyebab kebakaran hutan antara lain sebagai berikut :
a.  Musim kemarau yang sangat panjang.
b.  Meninggalkan bekas api unggun yang membara di hutan.
c.  Pembuatan arang di hutan.
d.  Membuang puntung rokok sembarangan di hutan. 
Untuk mengatasi kebakaran hutan diperlukan hal-hal berikut ini.
a.  Menara pengamat yang tinggi dan alat telekomunikasi.
b.  Patroli hutan untuk mengantisipasi kemungkinan kebakaran.
c.  Sistem transportasi mobil pemadam kebakaran yang siap digunakan.
Pemadaman kebakaran hutan dapat dilakukan dengan dua cara seperti berikut ini :
a.  Secara langsung dilakukan pada api kecil dengan penyemprotan air.
b.  Secara  tidak  langsung  pada  api  yang  telah  terlanjur  besar,  yaitu  
melokalisasi api dengan membakar daerah sekitar kebakaran, dan mengarahkan  api ke
pusat  pembakaran.  Biasanya  dimulai  dari  daerah  yang  menghambat  jalannya  api,
seperti: sungai, danau, jalan, dan puncak bukit.
Pengelolaan  hutan  seperti  di  atas  sangat  penting  demi  pengawetan  maupun
pelestariannya karena banyaknya fungsi hutan seperti berikut ini :
1.  Mencegah  erosi;  dengan  adanya  hutan,  air  hujan  tidak  langsung  jatuh  ke
permukaantanah, dan dapat diserap oleh akar tanaman.
2.   Sumber ekonomi; melalui penyediaan kayu, getah, bunga, hewan, dan sebagainya.
3. Sumber plasma nutfah; keanekaragaman hewan dan tumbuhan di hutan memungkinkan diperolehnya keanekaragaman gen.
4.  Menjaga keseimbangan air di musim hujan dan musim kemarau.
Dengan  terbentuknya  humus  di  hutan,  tanah  menjadi  gembur.  Tanah  yang  gembur
mampu menahan air hujan sehingga meresap ke dalam tanah, resapan air akan ditahan oleh
akar-akar pohon. Dengan demikian, di musim hujan air tidak berlebihan, sedangkan di musim
kemarau, danau, sungai, sumur dan sebagainya tidak kekurangan air.
Sumber :
http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAFI/196006151988031JUPRI/SUM
BER_DAYA_ALAM_Drs._Jupri,_MT.pdf



Senin, 06 Januari 2014

Harapan di 2014

Harapan di 2014


          Tahun 2013 merupakan lembaran masa lalu yang memiliki banyak cerita dan pelajaran yang dapat diambil hikmahnya. Kesalahan-kesalahan yang telah banyak dilakukan dalam menjalani kehidupan memiliki banyak hikmah yang dapat dipetik supaya dapat belajar dari kesalahan yang telah dilakukan dan dapat menjadi lebih baik lagi dalam segala hal. Harapan-harapan di tahun 2014 merupakan suatu target yang harus dicapai. Target yang harus dicapai ditahun 2014 adalah mendapat nilai yang lebih baik dari semester sebelumnya atau dapat mempertahankan nilai yang telah diperoleh di semester sebelumnya, dapat lebih disiplin dalam hidup karena belajar dari pengalaman yang telah lalu bahwa dispilin itu sangat penting karena dengan disiplin hidup akan menjadi lebih terarah dan teratur serta akan lebih mudah untuk mencapai tujuan-tujuan hidup. Selain itu target dan harapan yang ingin dicapai di tahun 2014 adalah semakin giat belajar dan rajin membaca serta melatih segala kemampuan atau skill yang dimiliki karena akan sangat bermanfaat apabila di tempat kerja nanti bila saya telah lulus. Harapan yang lainnya adalah menjadi pribadi yang lebih baik lagi dalam sikap, emosional, dan kematangan dalam berpikir serta lebih meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT agar dapat dijadikan pegangan hidup dan penguat diri dalam mencapai semua keinginan dan cita-cita. Dalam proses hidup untuk mencapai cita-cita pastilah banyak berbagai halangan, rintangan, terjal, liku, masalah yang mendera ditengah keinginan untuk mencapai cita-cita dan keinginan maka dari itu untuk menjalani proses tersebut semua harus dipersiapkan baik secara mental dan fisik oleh karena itu pendekatan spiritual kepada Allah merupakan faktor terpenting dalam mencapai segala cita-cita. Tak hanya itu ,memiliki tekad dan diiringi usaha yang lebih besar dari tahun sebelumnya  supaya harapan-harapan tersebut dapat terwujud.